Wednesday, August 29, 2012

Morning Muse



Hujan membasahi bumi korea, setelah 3 hari yang lalu disapa angin topan bolaven yang berasal dari pulau okinawa jepang, lumayan kuat sempat meluluh lantahkan jemuran ku  :), tapi sekarang sudah agak terbiasa dengan sapaan alam seperti ini, dulu ketika kuliah di jogja juga sempat dihadapkan dengan bencana alam gempa bumi, erupsi merapi, angin puting beliung. Ah mengingat-ingat itu jadi rindu jogja, teman-teman disana apa kabar? ^^

Pagi ini masih hujan membuatku ingin bermalas-malasan tapi sudah waktunya solat subuh, aku ambil air wudhu agar membuatku semakin sadar, setelah itu kutunaikan kewajibanku. Hmmm tengak-tengok  dapur  melihat piring kotor rasanya tidak tega alangkah senangnya mereka jika aku mau membasuhnya, kemudian menjemur pakaian. tiba-tiba saja Hamzah bangun waktunya sarapan pagi untuk yang kedua kalinya. Tiba-tiba erlintas dengan postingan dosen ku beberapa hari yang lalu yang mengatakan " apakah perlu saya ingatkan agar kita "Jangan bangga jadi ibu rumah tangga kalau tak pernah berfungsi sbg sekolah utama bagi anak-anak dan penyejuk hati orang2 yg menyayangi anda di rumah"..? Rasanya tidak perlu, krn anda pasti sudah tau kan..." hmmm sudah tau belum ya? iya tapi untuk sekedar tau itu mudah,  bapak Muhammad Fauzil Adhim menyegarkan ingatan ku bahwa Benjamin S. Bloom membagi secara berjenjang kemampuan kognitif dalam sebuah taksonomi yang dikenal dengan Taksonomi Bloom. Ada enam jenjang, yakni pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan jenjang tertinggi adalah penilaian. Hmm jika hanya sekedar tahu maka aku berada ditingkatan yang paling rendah hiks :((.

Rasanya sudah sering kali diingatkan dengan hal tersebut entah postingan itu yang keberapa kalinya, sekedar tahu tanpa memahami apalagi menerapkan , terlebih melakukan analisis dan kemudian penilaian maka yang tertinggal hanyalah harapan, kemudian harapan itu tidak terwujud timbul masalah baru yaitu penyesalan , yang sering kita ekspresikan dengan kata " seandainya" padahal Rosulullah sudah mengingatkan kita Bersungguh-sungguhlah pada hal yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah serta jangan merasa lemah. Bila kamu ditimpa sesuatu, janganlah kamu mengatakan “Seandainya (tempo hari) aku melakukan ini, niscaya begini dan begini.” Katakanlah, “Allah telah menakdirkan dan apa yang Allah kehendaki, maka itu terjadi.” Sesungguhnya kata seandainya akan membuka pintu perbuatan setan.” (HR. Muslim).

Kata bapak Hamzah tentu Islam tidak mungkin menyuruh wanita mendedikasikan diri untuk rumahtangganya jika tanpa misi besar, iya besar sekali. Manusia tidak hanya membutuhkan pendidikan jasmani melainkan rohani, bahkan masih terekam diingatan tentang teori hierarchy of needs Abraham Maslow, tingkatan kebutuhan manusia yang paling tinggi adalah transendensi. Terkadang sebagai orang tua kita justru disibukkan dengan mempercantik/mempertampan penampilan fisik anak-anak kita, dan mengabaikan hal yang lebih penting. Tanggung jawab orang tua, terutama ibu dalam mencetak generasi tangguh, berakhlaq baik untuk masa depan. Rumah memang sekolah pertama bagi anak-anak. Benar-benar nasihat besar untuk diri saya sendiri dan juga untuk para ibu, kalau begitu yuk lah tingkatkan kualitas kinerja  kita ^^

No comments:

Post a Comment