Happy housewife!benarkah menjadi ibu rumahtangga/nyonya rumahtangga/istri rumahtangga whatever lah apa istilahnya, adalah sesuatu yang menyenangkan? lalu untuk apa dulu aku kuliah, jika kemudian lulus hanya berkutat dengan rumah dan seisinya. Bagi sebagian orang semua itu bukan hal yang istemewa, dan mungkin yang keren adalah ketika wanita duduk sambil mengetik di depan monitor, menjinjing tas, dengan blazer yang elegan, dan sepatu high heel yang membuatnya semakin rupawan. Tidakkah aku punya impian untuk hal itu, di mana seorang istri yang tidak hanya mengandalkan materi dari sang suami, bisa mandiri, terlebih bisa membantu ekonomi keluarga.
Yah, tentu saja aku ingin memiliki penghasilan sendiri, aku ingin membantu suamiku, bukankah boleh-boleh saja, itu merupakan sedekah jika istri ikhlas memberikannya, tetapi bagaimana caranya dapat melakukan hal itu tanpa meninggalkan tugasku dirumah sebagai istri?. Jika diizinkan kelak semua ingin aku kerjakan sendiri,kalaupun ada yang membantu mereka adalah suami dan anak-anakku, aku tidak ingin ada pembantu karena aku adalah wanita pencemburu, aku sungguh tak rela jika suamiku lebih menyukai masakan pembantuku daripada masakanku, aku sungguh tak rela jika anak-anak ku nanti lebih dekat dengan pembantuku daripada aku. Aku sependapat dengan Dr. Muhammad Mahdi Akif bahwasanya wanita hendaknya menjaga perannya yang utama yaitu mendidik anak, menjaga keluarga yang dibangun atas mawaddah dan rahmah, juga tetap menciptakan suasana tenang dan damai dalam rumah tangga.
Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan dari bulu domba, bulu unta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan sampai waktu. (Q.S. An-Nahl: 80)
Lalu apakah rezeki bisa di dapat hanya dengan bekerja diluar, aku sungguh mengagumi seorang istri yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan sendiri, tanpa harus terpaksa meninggalkan kewajibannya sebagai ibu rumahtangga. Wirausaha, iya itulah cita-cita ku dari SMA dulu. Kelak aku ingin sekali menjadi seperti mereka.Salah satu contoh adalah Khadijah istri Rosululloh, beliau adalah salah satu contoh wanita tangguh, pedagang yang sukses, bukan hanya sukses meraih materi namun meraih derajat sebagai pemimpin wanita-wanita di syurga kelak,karena begitu indah beliau mengatur semua yang Alloh titipkan padanya, hartanya disumbangkan untuk keperluan Islam waktu itu, sungguh wanita ini dikenal karena kedermawanannya.
Lalu bagaimana jika meneruskan untuk sekolah lagi?
Someone told to me, "hmm minimal kalau suamimu nanti s3 , kamu harus ambil s2 dong ti",atau "hmm, masak mau kalah sih sama masnya, ayok dong sekolah lagi". Ya, semoga kata-kata itu cukup membuatku termotivasi untuk terus belajar, tetapi menurutku aku menikah tidak untuk saling bersaing, aku dan suamiku memiliki tanggungjawab masing-masing, aku tidak ingin bersaing dengannya karena sampai kapanpun dia tidak akan bisa menyamai kedudukan ku, begitupula sebaliknya. Lalu apakah aku tidak percaya akan firman Alloh dalam surat Al-Mujadilah ayat 11 yang artinya " Niscaya Alloh akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi Ilmu pengetahuan beberapa derajat dan Alloh mengetahui apa yang kamu kerjakan" tentu saja tidak, aku percaya bahwa Alloh mencintai orang yang berilmu, Islam bahkan memerintahkan kita untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya yang kemudian ilmu tersebut dapat berguna bagi orang lain. Seorang ahli Matematika Phytagoras juga berpesan pada kita semua "Wahai anak muda, jika engkau tidak sanggup menahan lelahnya belajar, maka engkau harus menahan pahitnya kebodohan",akupun berusaha tidak ingin menjadi seorang yang aroganis epistemik, karena terlalu cepat puas dengan ilmu yang di peroleh, namun apakah ilmu hanya bisa di dapat di bangku sekolah saja?. Tentu jika kita berpikir seperti itu, tidaklah adil bagi teman-teman kita yang kurang beruntung karena tidak bisa sekolah, maka Alloh menyediakan lahan yang begitu luas untuk belajar.
Sungguh aku menghargai pilihanku untuk menikah muda dan kemudian menagbdikan diriku untuk sepenuhnya menjadi istri rumah tangga, dan inilah jalan yang aku ambil,terlepas dari perasaan bahagia atau tidak, karena semua tindakan memiliki konsekuensi,semua tergantung yang menjalaninya. Manusia hidup tentu tidak lepas dari masalah bukan? untuk mereka yang memutuskan bekerja, kuliah,ataupun yang menikah. Setiap orang memiliki pandangan hidup yang berbeda-beda, cita-cita yang berbeda-beda,jalan rezeki dariNya juga masuk pada pintu yang berbeda-berbeda ^^. Menurutku apa yang ada dan telah kita ambil selagi keputusan itu tidak melanggar aturanNya itulah yang harus kita jaga, mensyukuri adalah tindakan yang paling tepat, semoga kita bisa sama-sama meraih kesuksesan dunia dan akherat^.
Okey kembali ke judul, lalu apakah aku benar-benar bahagia? iya untuk saat ini aku bahagia, dan akan terus berharap selalu bahagia dengan belajar syukur, belajar jd lebih baik. Terlebih aku akan menjadi seorang ibu, Ahhh, trimakasih ya Alloh sungguh aku merasa tidaklah ada alasan untuk tidak bersyukur padaMu, InsyaAlloh di usiaku yang ke 23 tahun nanti akan hadir bayi mungil meramaikan rumahku yang kecil ini, kamarku akan menjadi wangi minyak telon dan bedak bayi favoritku, akan ada lipatan-lipatan pakaian bayi, tangan mungil yang bisa ku genggam. Yakinkan padaku ya Robb bahwa aku pantas untuk menjadi ibunya, bimbinglah kami untuk menjadi orang tua yang solih/solihah, cintailah keluarga kami dan satukan kami di syurgaMu kelak Aamiin :).
Okey kembali ke judul, lalu apakah aku benar-benar bahagia? iya untuk saat ini aku bahagia, dan akan terus berharap selalu bahagia dengan belajar syukur, belajar jd lebih baik. Terlebih aku akan menjadi seorang ibu, Ahhh, trimakasih ya Alloh sungguh aku merasa tidaklah ada alasan untuk tidak bersyukur padaMu, InsyaAlloh di usiaku yang ke 23 tahun nanti akan hadir bayi mungil meramaikan rumahku yang kecil ini, kamarku akan menjadi wangi minyak telon dan bedak bayi favoritku, akan ada lipatan-lipatan pakaian bayi, tangan mungil yang bisa ku genggam. Yakinkan padaku ya Robb bahwa aku pantas untuk menjadi ibunya, bimbinglah kami untuk menjadi orang tua yang solih/solihah, cintailah keluarga kami dan satukan kami di syurgaMu kelak Aamiin :).
I'll waiting you here my dear baby. Wish you're doing fine and in super healthy condition muaccchh :*
Oh iya, bantal ini pemberian dari pasangan suami istri yang gak sengaja ketemu di stasiun kereta ketika pulang dari Silaturahmi Akbar di Kota Daegu,mereka berdua habis mancing katanya(mancing boneka)eh, tau ibuk lagi hamil dikasih deh bantal ini ke ibuk, katanya buat dedeknya nanti hihihi. Nanti kalau udh lahir jangan lupa bilang trimakasi ya dek ^^


No comments:
Post a Comment